Sepatu
Dingin, udara malam
ini sungguh menggelitik sendi. Aroma lembab yang pengap tercium akibat hujan
yang baru saja terjadi. Para manusia memondokkan diri mereka di bawah atap
hangat untuk melepas penat dan rindu. Kendaraan yang lewat di jalan pun sudah
mulai dapat dihitung dengan jari. Tepat di pinggir jalan itu berjalanlah seorang
laki-laki renta. Dia yang pakaiannya amat tak laik pakai itu melangkahkan
telapak kakinya sendirian, melewati setiap ruas jalan, setiap gang dan setiap
sudut kota Jakarta yang padat.
Laki-laki tua itu
berjalan dengan kaki terpincang sebelah. Dia terlihat amat kumal. Bajunya
rombeng layaknya lap yang baru saja dipakai untuk membersihkan tumpahan kecap.
Topi bundar yang mengelilingi lingkar kepalanya juga sudah terdapat banyak
hiasan lubang di mana-mana. Hanya satu yang terlihat bagus darinya, terlihat
seperti orang yang mampu, sepatu. Sepatu sportnya yang berwarna hitam tampak
seperti sepatu yang baru dipakai delapan kali setelah dibeli. Sungguh aksesoris
yang sangat kontras bila disejajarkan dengan aksesoris lainnya.
Letih tampak telah
mewarnai wajahnya. Keringat di dahi, di punggung, dan di dada telah membasahi
dirinya. Tapi dia tampak tetap tegar sembari menenteng tas punggung. Matanya
yang sudah agak rabun berkeliaran seolah sedang mencari mangsa. Kemudian dia
menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia berjalan mendekatinya lalu
mendesah. Yang dia temukan hanyalah sepasang boneka lumba-lumba kecil yang
sudah amat kotor dan berlubang sehingga mengeluarkan kapas. Dia berdiri dan
letih benar-benar telah memakan tenaganya. Akhirnya dia memutuskan untuk
pulang.
Pak tua itu
berjalan pulang dengan tas tetap berada di punggungnya. Setelah berjalan agak
lama, tibalah dia di sebuah rumah triplek yang di bangun dekat tempat pembuangan
sampah. Dia memasuki rumah dan mengenyakkan dirinya di atas kasur kapuk yang
telah berlubang, setelah menaruh tasnya di sebelah kasur. Dia sungguh menikmati
empuknya kasur dan heningnya malam, walau aroma yang terhirup amat tidak sedap.
Tapi bagi dia, aroma ini bagaikan pengharum ruangan yang sering ada di
rumah-rumah orang berduit. Dia memejamkan matanya, lelap pun menjelajahi
pikirannya.
***
Pak tua berjalan sendirian
di pinggir jalan. Betapa senangnya dia hari ini. Hatinya yang sedang bergelora
membuatnya berjalan dengan ringan sembari membawa sebungkus kotak kado. Dia berjalan
pulang ke rumah terburu-buru. Lalu dia tiba di rel kereta api yang berada dekat
rumahnya. Betapa herannya dia melihat kerumunan orang yang sedang sibuk
memperhatikan sesuatu. Yang membuatnya lebih heran lagi, mengapa terdapat
kereta api yang berhenti di tempat yang bukan stasiun. Setelah menyelinap untuk
dapat melihat sumber perhatian massa, jantungnya bergejolak keras, hatinya
mencelos. Bagaimana tidak, terdapat dua onggok tubuh segar berlumuran darah
yang terbaring beberapa meter dari rel kereta. Pak tua berteriak histeris. Dia pun
terbangun. Ternyata yang tadi itu hanyalah mimpi.
Tubuh pak tua basah
kuyup karena keringat. Dia mendudukkan dirinya dan menghembuskan napas.
Ternyata hari sudah siang. Dia bangkit dan langsung mengambil tas yang ada di
samping kasurnya. Dia mengeluarkan isinya yang berupa tiga pasang sepatu yang
sudah butut. Dua adalah sepatu anak-anak, dan sisanya adalah sepatu orang
dewasa. Dia mengambil peralatan untuk memperbaiki sepatu dari ujung ruangan.
Kemudian dia mulai memperbaiki sepatu-sepatu itu. Setelah selesai, dia pergi ke
kali di dekat rumah untuk mencucinya di sana. Lalu dia menjemurnya. Selain itu
dia juga mencuci pakaian kotornya di kali. Semenjak ditinggal istrinya, dia
melakukan semuanya seorang diri dengan sabar.
Setelah itu, dia
mandi sebentar. Lalu dia kembali ke rumah untuk membersihkan rumah kemudian
bekerja mencari barang-barang bernilai dari tumpukkan sampah yang nantinya akan
dia setorkan.
“Hai pak tua!” sapa
seorang laki-laki pemulung.
“Hai!” sahut pak
tua.
“Gimana kabar
sampah hari ini?” tanya laki-laki itu sambil nyengir.
“Masih sama, bau!”
Pak tua dan laki-laki itu tertawa.
Sore pun tiba. Dia
mengakhirinya dan kembali ke rumah untuk istirahat sebentar. Sehabis magrib,
dia pergi keluar rumah untuk mencari udara segar dan benda yang sangat berharga
baginya, sepatu. Dia mulai menyusuri jalan raya, tempat-tempat sampah, lapangan
dan taman. Beberapa kali dia menemukan sendal, lalu sepatu yang hanya satu
pasang, atau yang sudah amat rusak sekali. Dia meninggalkan itu semua. Dia
terus mencari sampai tiba di depan rumah besar. Dia mendapatkan sepasang sepatu
sport warna putih yang usang di tempat sampah. Kebetulan di teras sedang ada
orang yang sedang mengobrol. Orang itu heran melihat pak tua sedang bediri di
depan rumahnya. Laki-laki itu langsung memanggil satpamnya.
“Kamu lihat orang
mencurigakan itu? Jangan-jangan gembel itu mau mencuri atau merampok! Cepat
usir dia!” ujar laki-laki berkaca mata itu sembari bertolak pinggang.
Pak tua mendengar
ucapan laki-laki yang dilontarkan keras itu. Di dalam hatinya dia sungguh amat
tersayat.
“Maaf pak! Apa yang
sedang bapak lakukan di sini?” tanya satpam setelah berada di depan pak tua.
“Saya hanya sedang
memungut sepatu ini!” Pak tua menunjukkan sepatu butut yang dia pungut.
“Ya sudah, cepat
dibawa dan cepat pergi dari sini!” kata satpam itu.
Pak tua pun pergi
dari depan rumah mewah itu setelah memasukkan sepatu tadi ke dalam tas punggungnya
yang besar. Lalu dia mengembara lagi untuk mencari sepatu. Dan kemudian dia menemukan
sepasang sepatu anak kecil berwarna biru di pinggir jalan sepi. Dia
menghampirinya dan memungutnya. Saat dia hendak memasukkannya ke dalam tas
punggungnya, dia mendengar suara batuk seseorang. Dia mencari sumber suara itu
dan menemukan seorang anak kecil manis yang terbaring sendirian di dalam tempat
bekas warung dekat situ.
“Kamu ngapain di
sini sendirian?” tanya pak tua.
Anak itu menjawab
dengan sedikit menggigil dan terbatuk. “Ajeng lagi nunggu abang Ajeng.”
“Memangnya abang
kamu ke mana?”
“Dia pergi nyari
uang untuk makan, tapi udah tiga hari dia nggak balik.” Air mata menetes dari
mata mungil anak manis itu.
“Orang tua kamu
mana?”
“Mereka udah nggak
ada!”
Pak tua menatap
anak itu dengan simpati. “Gimana kalau kamu ikut bapak saja dulu? Nanti bapak
bantu kamu nyari abang kamu!”
Anak itu terlihat
ragu. “Nggak ah! Kata abang, Ajeng nggak boleh ikut ama orang sembarangan. Lagian
gimana kalau abang pulang nanti dan Ajeng nggak ada di sini?”
Pak tua berpikir
sebentar dengan ragu, kemudian mengangguk. “Kamu sudah makan?”
Anak itu
menggelengkan kepala.
“Kamu tunggu di
sini sebentar!”
Pak tua itu pergi
untuk membeli dua bungkus nasi di warteg dekat situ menggunakan semua uang yang
dia bawa. Lalu pak tua itu kembali dan memberikan satu nasi bungkus kepada anak
kecil tadi. Mereka makan bersama dan saling mengobrol sembari diselingi batuk
sang anak yang bernama Ajeng itu.
“Pak, itu apa?”
tanya Ajeng sembari menunjuk tali yang berjuntai dari dalam tas punggung pak
tua setelah selesai makan.
“O, ini sepatu.”
Pak tua mengeluarkan sepatu dari dalam tasnya dan menunjukkannya kepada Ajeng.
Ajeng terlihat
murung ketika memperhatikan sepatu anak-anak berwarna biru itu.
“Dari dulu, Ajeng
pingin sekali punya sepatu warna merah jambu. Kata abang, abang mau beliin buat
Ajeng nanti.”
Mata pak tua
berkaca-kaca seketika melihat Ajeng. “Kalau Ajeng mau, besok bapak bawakan
sepatu warna merah jambu buat kamu!”
Wajah Ajeng langsung
berubah jadi cerah saat mendengarnya.
***
Keesokkan paginya pak
tua terbangun dan langsung mengambil tiga pasang sepatu yang kemarin dia jemur
dan memasukkannya ke dalam rumah. Kemudian dia mengambil sepatu warna merah
jambu yang dia taruh dalam kotak dan memasukkannya ke dalam tas bersama-sama
dengan sehelai selimut butut yang belum pernah dia pakai. Lalu dia pergi ke
tempat Ajeng kemarin berada. Tapi sebelum itu dia membeli makanan dulu di
warteg.
Entah kenapa,
perasaan pak tua saat ini senang sekali. Dia seperti menerima karunia luar
biasa yang tak terkira nilainya. Tibalah dia di sebuah warung bekas yang sudah
lama ditinggalkan pemiliknya. Suasana di jalan ini memang sepi, walaupun sudah
pagi hari. Jarang orang yang melewati jalan ini, mungkin karena jalan ini
adalah jalan buntu yang menuju gardu listrik. Entah kenapa ada warung di jalan
sini, mungkin dulu tempat ini dijadikan sebagai tempat judi.
Dia bergegas mencari
Ajeng yang ternyata sedang terbaring manis di dalam warung. Pak tua menyapa Ajeng
dengan lembut. Pak tua benar-benar merasa bahwa hidupnya kembali lagi saat ini.
Pak tua merasa seperti bertemu kembali dengan orang yang sangat dia cintai.
Anak perempuannya yang meninggal bersama-sama dengan temannya akibat tertabrak
kereta. Ajeng tampaknya pulas sekali. Pak tua memanggilnya lagi dengan suara
yang penuh kehangatan. Keramahan dan kebaikan hati Ajeng sungguh mirip dengan Rani.
Sungguh amat gembira hati pak tua sekarang.
Namun Ajeng tak
kunjung bangun. Pak tua membangunkannya sekali lagi sembari menggoyang tubuh
Ajeng. Tapi Ajeng tetap tidak bergerak. Pak tua memanggilnya dan menggoyang
tubuh Ajeng lebih keras lagi, tetap tidak bangun. Pak tua panik dan jantungnya
terasa akan meledak. Dia menyentuh tangan Ajeng yang dingin, lalu menyentuhkan
punggung tangannya ke lubang hidung Ajeng kalau-kalau ada hembusan napas. Tapi
ternyata tidak ada. Pak tua terjatuh berlutut dan berteriak histeris.
***
Pemakaman Ajeng
berlangsung dengan khidmat di tanah wakaf di kampung dekat sana. Para warga
sekitar rela membantu memakamkan Ajeng setelah pak tua meminta bantuan mereka.
Saat jenazah Ajeng hendak ditutup dengan papan dan tanah, pak tua menghentikan
mereka. Dia mengambil tasnya dan mengeluarkan sepatu merah jambu yang hendak
dia berikan kepada Ajeng sebelumnya. Dengan ikhlas dia menaruh sepatu itu di
dekat tumpukkan tanah, lalu berjalan mundur. Kemudian jenazah Ajeng pun dikubur
dan setelah itu mereka bersama-sama mendoakan arwah Ajeng agar di terima di
sisi-Nya.
Seusai pemakaman,
pak tua pun bertolak ke rumahnya. Kini perasaan bahagia yang dia dapatkan
terbang bersama angin, pupus. Dia kembali terjerembab dalam dunia kesendirian.
Lalu tiba-tiba ada seorang anak kecil yang sedang menangis di tengah jalan.
Anak perempuan itu ternyata habis terjatuh. Pak tua membantunya berdiri dan
menghiburnya. Anak itu tetap menangis. Pak tua mengambil tasnya dan
mengeluarkan sesuatu yang langsung membuat anak itu terdiam. Pak tua
memberikannya kepada anak itu. Anak itu terlihat senang sekali menerimanya. Pak
tua pun tersenyum melihatnya.
Komentar
Posting Komentar