Kasus Siklamat dan Aspartam Sebagai Pemanis Buatan
Kata Siklamat
mungkin sering kita dengar di kehidupan sehari-hari. Siklamat adalah sebuah
pemanis buatan non kalori yang telah digunakan lebih dari 50 negara. Pada tahun
1969, FDA melarang penggunaan siklamat dalam produk pangan. Pasalnya siklamat
sering dicampur dengan sakarin, dan ketika deiberikan pada hewan percobaan
terlihat ada indikasi menyebabkan kanker. Namun setelah dilakukan penelitian
toksikologi lebih lanjut oleh World Health Organization (WHO), tidak ada bukti
bahwa siklamat bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker. Perlarangan ini
akhirnya dicabut kembali.
Sedangkan aspartam
pertama kali disintesa oleh James Schlatter tahun 1965. pemanis non kalori ini
mudah sekali terurai sehingga masa pakainya dalam produk pangan hanya 6 bulan.
Aspartam disetuji sebagai bahan tambahan pangan aman oleh FDA Amerika Serikat
pada tahun 1981. Mulanya penggunaan aspartam dibatasi sebagai pemanis tunggal
dan mix powder. Persetujuan untuk
menggunakannya dalam minuman seperti sirup, salad
dressing, dan snack tertentu baru
dikeluarkan pada tahun 1986.
Tidak semua orang
aman mengonsumsi aspartam. Di dalam tubuh manusia, aspartam dicerna menjadi
fenilalanin, aspartat, dan matanol. Lazimnya, tubuh akan mengubah fenilalanin
menjadi tirosin. Namun pada orang-orang yang mengalami fenilketonuria,
perubahan ini tidak terjadi, karena tubuh mereka tidak memiliki enzim
fenilalanin hidroksilase yang berperan mengubah fenilalanan menjadi tirosin.
Akibatnya, fenilalanain bertumbpuk pada jaringan saraf mengakibatkan terjadinya
retardasi (keterbelakangan) mental. Untuk menghindari hal ini, semua produk
pangan yang mengandung aspartam diharuskan mencantumkan peringatan pada label
kemasannya agar penderita fenilketonuria tidak menggunakan produk tersebut.
Dengan alasan sama,
wanita hamil dianjurkan tidak mengonsumsi produk makanan dan minuman yang
mengandung aspartam. Anjuran ini lebih bersifat “berjaga-jaga” untuk
menghindari terjadi retardasi mental pada janin yang dikandungnya. Sebab, bisa
saja seorang wanita hamil mengalami fenolketonuria namun yang bersangkutan
tidak menyadarinya.
Sumber:
Syah, Dahrul dkk. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan
Tambahan Pangan. Bogor: Fateta IPB.
Komentar
Posting Komentar