Bersikap Kritis Pada Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Bahan tambahan
pangan (BTP) memang sangat bermanfaat. Merski begitu, tak ada salahnya konsumen
selalu bersikap kritis untuk melindungi diri dari resiko gangguan kesehatan
yang mungkin muncul akibat mengonsumsi pangan yang mengandung BTP. Berikut
adalah kiat untuk melindungi diri.
- Apa pun produknya, bila dikonsumsi secara berlebihan, tidak baik efeknya pada tubuh. Karena itu berusahalah agar tidak mengonsumsi produk dengan BTP yang sama secara terus menerus dan dalam jumlah yang besar.
- Biasakan untuk mengenali BTP apa saja yang ada dalam suatu produk pangan dengan membaca label komposisi bahan. Tetapi ingatlah, jangan memberi penilaian negatif dulu bila tertulis di situ sebutan-sebutan kimiawi. Karena air pun pada dasarnya disebut sebagai H2O atau Hidrogen peroksida tanpa membuat kita mendafatkan efek yang lain dari air yang kita kenal selama ini.
- Penerimaan kita yang wajar terhadap keterangan yang tercantum akan memberi kesempatan pada produsen untuk bersifat jujur pada produknya. Bagaimanapun, produsen yang berani mencantumkan secra lengkap komposisi bahan produknya, menandakan produsen tersebut punya keberanian dalam menjamin mutu produknya.
- Pertimbangkan baik-baik produk tersebut akan kita berikan pada siapa. Produk-produk dengan BTP pewarna guna mengurangi kelebihan berat badan mislanya, tidak tepat bila diberikan pada anak-anak yang masih memerlukan kalori tinggi.
- Kenali spesifikasi BTP-BTP yang populer digunakan, khususnya efek-efek spesifik BTP tersebut, terutama pada kelompok sensitif. Misalnya, nitrit tak baik bagi penderita asma.
- Hindari produk-produk yang menggunakan BTP yang seharusnya tidak perlu digunakan karena tidak prinsip atau bisa digantikan dengan teknologi lain. Misalnya, pemakaian pewarna berlebihan. Karena tanpa warna pun, suatu produk tak terlalu berbeda fungsinya. Kita juga bisa mengganti penggunaan BTP pengawet dengan teknologi pengemasan aseptis seperti apda kemasan kotak untuk susu atau minuman lain.
- Carilah produk dengan harga pantas sesuai kandungan bahan yang seharusnya digunakan. Contoh, kita tak akan mungkin mendapatkan sirup dengan kandungan gula cukup bila harga sirup tersebut per botol seperlima harga gula di pasaran.
- Amatilah kelayakan daya simpan produk dari segi komposisi bahan bakunya, kemasan, dan cara penyimpanan. Kita perlu waspada bila ada situasi yang tak logis. Misalnya, bakso dapat disimpan pada suhu kamar lebih dari 2-3 hari. Coba tanyakan BTP atau perlakuan apa yang diberikan pada produk tersebut.
- Bekali diri dengan pengetahuan BTP sehingga dapat bersifat kritis pada suatu produk. Bila dirasa perlu, beranilah bertanya pada produsen atau lembaga-lembaga konsumen seperti YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) atau perguruan tinggi terkait tentang BTP baru yang belum dikenal.
- Percayaplah pada indera kita yang telah dilengkapi Tuhan dengan sensor yang paling canggih. Indera kita dapat memberi peringatan yang sangat akurat terhadap bahan-bahan yang berbahya bagi tubuh. Misalnya, penggunaan pengawet benzoat yang berlebihan akan memberikan rasa sepat pedas yang menggetarkan alat pengecap kita. Meski rasa tidak enak itu seringkali ditimpali dengan pedas cabai, toh bila kita rasakan lebih jauh, rasa pedas cabai dan benzoat berlebih sangat berbeda.
Sumber:
Wijaya, Hanny. 2000. Bahaya Tambahan Pangan, Betulkah
Berbahaya? Sedap Sekejap. Edisi 5/I-April 2000.
Komentar
Posting Komentar